|
Written by Adhi Rachdian
|
|
Sunday, 19 August 2007 |
Setelah dijajah Belanda selama 350 tahun dan kemudian Jepang juga menjajah kita secara fisik. Kita merasa, sudah 62 tahun lalu tepatnya 17 Agustus 1945, negeri ini merdeka dari penjajahan fisik. Patut bersyukur kita mendapatkan anugerah kemerdekaan ini.
Akan tetapi, sangat disayangkan jika kemerdekaan seolah dipahami bangsa ini semata-mata sebagai keterbebasan negeri ini dari penjajahan secara fisik. Penjajahan non-fisik seperti pemikiran, politik, ekonomi, sistem sosial dan budaya. Penjajahan fisik memakan korban jiwa secara langsung dan terkesan tragis dan dramatis. Sedangkan penjajahan non-fisik karena tidak secara tidak langsung memakan korban jiwa, kesannya tidak tragis dan sedramatis penjajahan fisik.
Padahal jika kita renungkan, penjajahan non fisik - tidak kita sadari sebetulnya jauh lebih berbahaya daripada penjajahan fisik yang telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi bangsa ini khususnya dan umat manusia di dunia pada umumnya; selain mamakan korban jiwa yang terbunuh secara pelan-pelan.
Kita belum merdeka bung! Setelah penjajahan fisik, saat ini bangsa kita sedang mengalami penjajahan modern.
Write Comment (0 Comments) |
|
Last Updated ( Sunday, 19 August 2007 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Anonim
|
|
Monday, 19 December 2005 |
|
Tiba-tiba dengan kejutan yang luar biasa, bahkan bagi kalangan wartawan investigasi sekalipun, Presiden mengumumkan rencananya yang sudah memiliki tingkat kepastian politik, di mana Budiono, mantan Menkeu di jaman Ibu Megawati Sukarnoputeri, yang juga kolega Presiden SBY saat-saat di kabinet Mega, masuk kembali ke jajaran kabinet SBY-Kalla. Ini kejutan yang bukan main, karena nama Budiono sejak awal ditolak habis-habisan oleh Jusuf Kalla, bahkan sejak pembentukan kabinet rezim SBY-Kalla, setahun lalu (Th.2004). SBY sekali lagi telah mulai menggeliat dari tangan kuat Kalla, sekaligus pelan-pelan menyingkirkan peran Kalla, walaupun yang dikorbankan mungkin saja Jusuf Anwar, orang netral dalam kabinet SBY-Kalla, tetapi memiliki kecenderungan untuk memihak SBY. SBY mengorbankan orang pilihannya (Jusuf Anwar) demi langkah selanjutnya yang lebih prinsipil menghilangkan secara penuh warna Kalla-Bakrie dalam tim ekonomi dan memulihkan kendali politik ke tangan SBY dari kendali Kalla yang sudah mengusik perannya sebagai Presiden. Write Comment (2 Comments) |
|
Last Updated ( Wednesday, 05 July 2006 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Iman Suhirman
|
|
Wednesday, 24 August 2005 |
|
(Diterbitkan di Media Indonesia)
ANALISA Survei 10 Bulan Kabinet Indonesia Bersatu Kinerja Pemerintah (Umumnya) Bagus SUDAH 10 bulan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla memimpin negeri ini. Dalam pidato kenegaraannya yang pertama di depan Dewan Perwakilan Rakyat 16 Agustus 2005, Presiden menyampaikan poin-poin keberhasilan yang sudah dicapai pemerintahannya. Namun, publik ternyata mempunyai penilaian lain. Meski pada masalah penegakan hukum, keamanan, dan kesejahteraan sosial, publik sepakat dengan Presiden, akan tetapi di bidang ekonomi terutama masalah harga dan ketenagakerjaan, kinerja pemerintah dinilai belum memuaskan.
Write Comment (18 Comments) |
|
Last Updated ( Thursday, 25 August 2005 )
|
|
Read more...
|
|
|