Home Diary Bagaimana Merancang, Mendesain dan Mengkoding Kematian?
|
Bagaimana Merancang, Mendesain dan Mengkoding Kematian? |
|
|
Written by Adhi Rachdian
|
|
Friday, 21 September 2007 |
Sebagai orang awam, tentu saja banyak dari kita yang merasa tabu dan takut untuk membicarakan maut atau kematian. Padahal kematian itu sendiri sangat dekat dan sesuatu yang sangat pasti. Pembahasan tentang kematian selalu membuat kita bergidik dan trenyuh. Dimensi yang tidak terjangkau dan diluar kemampuan manusia untuk dapat mencernanya.
Suka atau tidak suka, tabu atau tidak, kematian adalah sesuatu hal mutlak dan tidak dapat kita hindari. Jika
ajal sudah dekat, kita tidak mungkin untuk dapat menghindar. Secara geografis, daerah pegunungan di Indonesia sangat rawan akan gempa tektonik maupun material dari gunung berapi. Sedangkan di daerah pantai Indonesia sangat rawan akan potensi tsunami yang dahsyat, karena selain banyak aspek vulkanik, Indonesia sendiri dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Lalu, kita mau menyelamatkan diri kemana? Akankah rasa waswas dan stres
menghantui kita seumur hidup? Kemana ketenangan yang hakiki akan kita
peroleh?
Secara
statistik dan perhitungan, menurut anda berapa usia kita akan dapat
dicapai? Pergunakanlah metode estimasi dan kalkulasi hidup yang
digunakan asuransi. Sebut saja 90 tahun, estimasi umur yang sangat
optimis dibandingkan rata2 umur manusia pada masa sekarang. Waktu yang
sebetulnya sangat pendek, dibandingkan dengan batu nisan terbaik saat
ini yang ada di muka bumi. Usia batu nisan kita bisa mencapai umur
ratusan tahun jauh melebuhi usia kita sebelum kemudian hancur.
Secara fakta, sepertiga umur kita (ambil rata2 orang tidur 8 jam perhari) pada
kenyataannya digunakan untuk tidur. Sisa umur 60 tahun tersebut jika
dikurang dengan jam kita bekerja (rata2 8 jam dalam 5 hari perminggu),
21.6 tahun, mengobrol selama 11.25 tahun (rata2 3 jam perhari) dan
lain-lain akhirnya akan menyisakan waktu beberapa tahun saja untuk
dapat beramal.
Mati adalah rahasia Allah swt, akan tetapi rancangan awal adalah kita yang menentukan. Jika umur kita dihabiskan sebagian besar untuk jihad di jalan Allah, berarti probabilitas kita meninggal dalam keadaan syahid menjadi lebih besar. Sebaliknya, jika umur kita sebagian besar dihabiskan di tempat maksiat, probabilitas mati dalam keadaan maksiatpun menjadi sangat tinggi. "Well designed" harus diterapkan dalam hidup kita untuk untuk merencanakan kematian kita agar pada detik-detik kita bisa meninggalkan dunia fana ini secara elegan, berpamitan dengan baik dan tersenyum, dalam islam kita mengenal istilah tersebut dengan Husnul Khotimah.
Di dunia asuransi, dikenal "life expectancy calculator", kita dapat memperkirakan umur kita berdasarkan faktor tertentu yang mepengaruhi seperti, garis keturunan, pola hidup, pekerjaan, dll. Sebagai ilustrasi, pola hidup yang buruk seperti merokok, tidak pernah berolahraga dan kebiasaan buruk lainnya akan memperberkecil "life factor" seseorang. Pekerjaan seseorang dengan resiko kerja yang tinggi juga akan memperkecil faktor hidup tersebut. Itulah sebabnya, perusahaan asuransi akan memberikan estimasi yang berbeda bagi seseorang. Nilai premi akan mahal jika ekspektansi hidup sesorang tersebut kecil. Semakin kecil hasil kalkulasi ekspektansi hidup sesorang, semakin mahal preminya. Memiliki usia yang panjang pada akhirnya hanya akan menjadi sia-sia jika kita kita tidak mengalokasikan waktu dengan tujuan hidup yang mulia. Berapa banyak orang yang memiliki usia yang relatif panjang dibanding usia rata-rata orang lain akan tetapi tidak berguna bagi orang banyak, tidak berkah, sehingga tabungan akhiratnya sangatlah sedikit bahkan mungkin tidak memilikinya. Idealnya, semakin panjang umur yang ingin kita capai, semakin banyak rizki yang kita peroleh, berbanding lurus dengan semakin banyak amalan yang dapat kita lakukan dan manfaatnya bagi orang lain.
Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu ia mengajukan enam pertanyaan. Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya.
Imam Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab kematian adalah janji Allah SWT. "Setiap yang bernyawa (pasti) akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185). Lalu Imam Ghazali meneruskan pertanyaan kedua, "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?" Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar.
Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga, "Apa yang paling besar di dunia ini?" Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghazali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu".
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka. Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?" Di antara muridnya ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban hampir benar, kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah "memegang amanah." Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?" Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan "shalat".
Lalu pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang...?" Benar kata Imam Ghazali, tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan kematian, senantiasa belajar dari masa lalu, dan tidak memperturutkan nafsu? Sudahkah kita mampu mengemban amanah sekecil apapun, senantiasa menjaga shalat, dan selalu menjaga lisan kita?
Menurut anda, pada usia berapa anda akan mati? Dan pada usia tersebut, sudah siapkah anda? Siapkah anda meninggalkan orang yang anda sayangi?
Merancang, Mendesain dan Mengkoding Kematian adalah kewajiban kita, eksekusi dan hasil akhir adalah Allah SWT yang menentukan. Subhanallah, Allahu Akbar...
Semoga di bulan ramadhan kali ini kita dapat bercermin dan mengintrospeksi diri dan menjadi motivasi baru untuk mempersiapkan kematian kita yang husnul khotimah... amiiinn...
Bagaimana menurut anda? Silahkan berbagi disini...
Tulisan diatas terinspirasi dari kultum di mesjid tadi shubuh dan taudziah hari Rabu (19 September 2007) di Gd. Granadi yang disampaikan ustadz Bp. Anwar Sanusi plus bahan tulisan http://adis08.blogspot.com/2007/01/persoalan-hidup_27.html dan http://wikipedia.org . Kesalahan datangnya dari kekhilafan saya semata, kebenaran datangnya dari Allah SWT. Semoga bermanfaat.... |
|
Last Updated ( Sunday, 23 September 2007 )
|
|
 |
 |
 |