Home Index About Live [Asisten Pengelap Kaca] Mohon maaf lahir dan bathin, Selamat Idul Fitri 1428H
|
[Asisten Pengelap Kaca] Mohon maaf lahir dan bathin, Selamat Idul Fitri 1428H |
|
|
Written by Adhi Rachdian
|
|
Sunday, 07 October 2007 |
Surat untuk para sahabat Keyword: Ikhlas, pengelap kaca, drag race, alumni, ITB, pemilu, kampanye
Alhamdulillah puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt, sehat, karunia dan keberkahan senantiasa diberikan Allah swt pada kita.
Tak terasa hari ini adalah hari puasa ramadhan hari ke-25 kita sebagai umat mulsim menjalankan ibadah shaum. Disaat yang bersamaan dengan bulan yang suci ini juga, rekan2 alumni ITB sedang giat2nya melakukan kampanye pemilihan ketua Ikatan Alumni ITB untuk periode 2007 - 2011. Bagi saya tidak begitu penting profil dibalik calon ketua IA ITB tersebut, apakah itu presdir, CEO perusahaan gajah ataupun seorang menteri.
Faktanya, beberapa sobat2ku di masa kuliah saat ini sedang sibuk atau
menyibuk diri menjadi tim sukses di salah satu kubu calon ketua IA ITB,
mulai dari posisi yang cukup menentukan hingga yang sekedar simpatisan. Jalinan
kasih (emangnya acara TV..) dan silaturahmi yang selama ini terbentuk
sekian lama seakan sedikit "terganggu" dengan kepentingan mereka di "kubu"nya masing2.
Masing2 pihak merasa paling ok, paling benar, paling bersih, paling
bisa dipercaya, paling bisa memberikan yang terbaik untuk almamater dan juga bangsa dan
negara. Semua mengeluarkan janji manis yang terdengar indah dan sangat dermawan mengeluarkan uang untuk keperluan kampanye dari sekedar membuat spanduk,
pin dan asesoris serta atribut hingga biaya kunjungan ke
daerah bersama rombongan. Aura
pemilihan sangat terasa bercampur aduk seperti permen nano2, kental, manis, panas, bahkan tidak kalah panasnya dibandingkan
pilkada seorang gubernur kalau bisa saya bandingkan (semoga tidak
berkesan berlebihan).
Saya sebagai orang yang sangat bodoh dan awam, yang tidak mengerti
permainan politik yang memang bukan bidang saya hanya dapat mengambil
hikmah dan pelajaran berharga dari semua ini. Inilah sebuah simulasi besar dari kehidupan
nyata di negara kita. Mungkin bagi kebanyakan orang apalah arti
pemilihan ketua IA ITB, yang pada faktanya bahwa proses ini merupakan bagian dari skenario
"grand design" dari negara tercinta ini dalam prosesnya berdemokrasi
yang masih seumur jagung.
Sebagai analogi pertandingan "drag race" kelas bebas yang masing2 tim
memilik strategi untuk memenangkan pembalapnya untuk menjadi nomor
satu. Dalam hal ini saya lebih suka untuk membahas psikologi bagaimana masing2 anggota tim bekerja untuk
mensukseskan pembalapnya masing2. Masalah pembalap mungkin bukan
kapasitas saya untuk meng-evaluasi karena sangat debatable dimana masing2 tim akan mengklaim
pembalapnya lah yang paling jago, walaupun masing-masing memiliki
kelebihan maupun kekurangan.
Bisa jadi bagi sebagain orang pertandingan ini seperti kurang fair,
bagaimana mungkin sebuah mobil dengan mesin diatas 3000CC diadu dengan
kendaran berCC dibawah 1000? Apa menariknya Sebuah mobil sekalipun sekaliber jaguar
ataupun mercedes seri S atau bahkan SLK seharga lebih dari 3M rupiah
harus bertarung dengan mobil (maaf) toyota camry misal. Memang aspek lain tidak dapat
dianggap enteng, apalagi balapan yang terjadi bukan di sirkuit tetapi
di jalan raya yang sangat banyak faktor x sebagai penentunya, sehingga kecepatan
bukan menjadi tolak ukur yang sebenarnya. Selain kecanggihan pembalap
bermanuver, dukungan tim maupun kendaraan yang digunakan juga menjadi penentu.
Dari tim teknis yang hanya memiliki perlengkapan seadanya hingga tim
yang memiliki perlengakapan yang sangat lengkap. Berpadu dengan anggota
tim yang bervariasi mulai dari yang solid maupun tidak, dari tim yang
memiliki anggota yang sangat spesifik hingga tim yang anggotanya bahkan
tidak tau harus melakukan apa. Mulai dari anggota tim yang bertugas sangat teknis
sebagai pengelap kaca mobil, pengganti ban, pengisi bensin hingga
manajer tim semua harus bekerja sesuai dengan posnya masing2 untuk bersinergi agar tujuan tim dapat tercapai.
Alih2 melakukan tugasnya sesuai kompetensinya masing2 dengan menerapkan
fairplay, segala macam cara mulai dari intimidasi, sindiran, pelecehan
bahkan fitnah kepada tim lain untuk menjatuhkan mental anggota tim lain pun sah2 saja dilakukan.
Dikehidupan nyata kalaupun posisi kita adalah sebuah posisi yang
menurut kacamata rekan2 tidak penting dan terkesan tidak penting yang
mungkin hanya sekedar pengelap kaca atau bahkan asisten pengelap kaca, pada dasarnya memiliki
peran yang sangat diperlukan dari sebuah sistem. Pada kenyataannya
seperti yang juga diungkapkan oleh seoarang Tukul Arwana, "kehidupan itu penuh dengan
misteri". Bagaikan roda, kita tidak pernah tau kapan diatas kapan
dibawah. Kristalisasi keringat akan berpengaruh bagi masing2 individu. Apakah kita pernah tau
sang pengelap kaca suatu saat mejadi pembalap yang baru sedangkan
sebaliknya seorang tim manajer dari tim yang berbeda suatu saat kemudian harus satu tim dimana posisinya adalah pengelap kaca sang pembalap baru?
Arogansi dan gengsi bagi alumni ITB mungkin sangat terasa kental, suatu
mental yang sangat tidak positip. Semua merasa dirinya pantas menjadi
pembalap ataupun pantas untuk menjadi manajer tim.
Sobat, mungkin tidak ada salahnya jika kita saling mengingatkan
dimanapun posisi kita berada, nikmati dan syukuri saja apa fungsi kita
dengan keikhlasan. Penonton yang baik tidak perlu mencaci tim yang kalah, pembalap yang
menang tidak perlu merasa tinggi hati, manajer tim tak perlu lagi
menganggap rendah si tukang tambal ban, pengelap kaca tidak perlu merasa rendah diri. Mari
kita bangun kembali silaturahmi ini semoga dengan kejadian ini justeru
merupakan tempat kita menempa diri untuk membangun ukhuwah yang lebih kompak lagi. Kata
anak2 sekarang... asik2 ajalah... nyang penting nyong hepi... kalau
kita ikhlas menjalankan sesuatu semua terasa ringan, menang kalah soal belakangan,
yang penting enak tidur... :) Alokasikan waktu dan tenaga kita sesuai
porsinya. Seperti kita ketahui bersama, banyak buku, tips, wejangan
baik dari psikolog, ustadz, teman, senior atau siapapun mengatakan jika
hasil yang kita capai tidak sesuai dengan harapan padahal kita sudah
"mati2an" (gap yang jauh antara hasil dan usaha yang dikeluarkan) maka
akan menganggu mental kita secara langsung, baik itu stress maupun
depresi. Semakin jauh gap ini, semakin tinggi kadar stresnya. Ingat
sobat, ini bukan ujian fismat yang kalau kita mati2an belajar maka
hasilnya 99% kita yang menentukan sendiri untuk mendapatkan nilai
tersebut. Terlalu banyak variabel X yang menentukan; tidak semua hal
kita mengerti dan juga tidak semua hal perlu kita ketahui.
Kalaupun kalah ataupun menang tetapi kemudian kita ditinggalkan pun gak
gak masalah, banyak hal yang sudah kita pelajari dan dapatkan
hikmahnya, terutama jalinan silaturahmi yang baru. Kalaupun kita kemudian bisa ikut
merasakan kemenangan, tidak peduli sebetulnya kita berada ditim yang
mendukung atau tidak sebelumnya... syukur alhamdulillah, mungkin itu memang rizki kita yang sudah ditetapkan Allah swt.
Sebagai seorang sahabat, saya hanya berkewajiban mengingatkan. Sahabat2
disini jelas lebih mengerti masalah ini dibanding saya yang tidak tau
apa2 dan sangat awam ini. Sekali lagi mohon maaf sobat, kalaupun kita tidak sepemahaman saya tetap cinta sahabat semua.... muahhhhhhh.... luv u.... (cuih... cuih... hoek... pada mau muntah gakseh... hehehehehe....)
Semoga di 10 hari terakhir yang merupakan minggu pengampunan ini kita
senantiasa diberikan hidayah dari Allah swt untuk saling memaaafkan.
Taqabalallahu minna waminkum, mohon maaf lahir dan bathin sobat, semoga Allah
mengampuni semua dosa2 kita sehingga kita dalam keadaan fitri
menghadapi lebaran 1 syawal 1428H. Selamat Lebaran 1428H.
Mohon maaf jika ada kekurangan, kesalahan datangnya dari kelalaian saya semata, kebenaran milik Allah swt.
Wass,
@dH1
- hanya seorang asisten pengelap kaca yang sedang belajar ikhlas... :) - vote for Hatta Rajasa... (ups... kalau yang ini kampanye, sekali lagi maaf sobat...) |
|
Last Updated ( Sunday, 07 October 2007 )
|
|
 |
 |
 |